Tuesday, June 5, 2018

Hichki : 9F dan Tourette Syndrome



          Review film Hicki adalah pembuka postingan saya di tahun 2018. Entah karena banyak hal, tahun 2018 menjadi tahun – tahun yang cukup berat untuk menulis. Awalnya saya sudah ingin menulis review ketika melihat film “ The Greatest Showman”... tapi entah kenapa pada akhirnya tidak kesampaian menulis dengan segala rutinitas. Berbeda dengan film Hicki ini, saya merasa harus  menuliskan review tentang film inspiratif ini karena memang film ini sangat layak ditonton bagi semua kalangan dan menjadi salah satu film dengan tema pendidikan yang “ recommended





          Film Hichki adalah film adapatasi dari buku autobiography Brad Cohen : Front of the Class: How Tourette Syndrome Made Me the Teacher I Never Had. Buku ini juga pernah difilmkan dengan judul yang sama dengan bukunya yaitu “ Front of The Class” pada tahun 2008. Jadi film ini benar – benar didasarkan pada kisah nyata dari Brad Cohen yang mengidap “ Tourette Syndrome “. Pada film sebelumnya versi Amerika, Brad Cohenn diperankan kembali oleh James Wolk sedangkan pada versi film India, tokoh Brad Cohen diperankan oleh Rani Mukerji.  

          Menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang mulia. Dalam kondisi normal saja tanpa ada suatu gangguan, guru sudah dihadapkan dengan segala problema untuk menghadapi anak – anak didik yang tiada habisnya apalagi menjadi seorang guru dengan kondisi khusus, yaitu “ Tourette Syndrome”.

          Sebelum ke review film, apakah ada yang pernah tahu tentang “ Tourette Syndrome “ ?
          ........................................................................................................
          ........................................................................................................
          ..........................................................................................................
          ( saya yakin pasti banyak orang yang belum mengetahui tentang kondisi ini )

          Jadi “ Tourette Syndrome  adalah sebuah gangguan neuropsikiatri ( gangguan sistem saraf yang berpengaruh ke perilaku) di mana penderita melakukan serangkaian gerakan berulang yang tidak disengaja, di luar kendali, dan bersifat tiba-tiba. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasari diantaranya adalah gangguan neurologikal, genetik ataupun dari faktor lingkungan ( terutama semasa kehamilan ). Biasanya penderita melakukan gerakan – gerakan yang berulang dalam interval waktu tertentu atau membuat suara – suara aneh. 

          Jujur saja saya baru mengetahui tentang sindrom ini dari film Hichki dan tiba -tiba mengingatkan saya tentang seorang teman ketika sekolah yang memiliki kebiasaan mengganggukkan kepala secara berulang. Saya sendiri waktu itu, juga merasa aneh dengan kondisinya dan berpikir positif bahwa dia mungkin memiliki penyakit yang membuatnya terus menganggukkan kepala. Pada saat itu, remaja dengan kondisi berbeda menjadi sasaran empuk “ bullying” oleh remaja lain tetapi untungnya teman saya tidak terlalu memusingkan hal itu dan tetap percaya diri karena dukungan dari keluarganya. Ia tidak ragu untuk tampil di atas pentas di kala itu. Kemudian berkat film ini saya baru menyadari bahwa mungkin ia mengidap “ Tourette Syndrome “.

          Film Hichki menceritakan tentang perjuangan seorang penderita “ Tourette Syndrome”, Naina Muchtar (Rani Mukerji) untuk menjadi seorang guru. “ Tourette Syndrome “ membuat Naina sering melakukan gerakan aneh dan bersuara aneh secara spontan. Hal ini membuatnya ditolak oleh beberapa sekolah karena mereka meragukan bahwa ia bisa diterima oleh murid – muridnya. Ia sangat ingin menjadi seorang guru karena terinspirasi dengan kepala sekolahnya di waktu kecil yang selalu percaya akan kemampuannya dan mengajarinya untuk menghadapi kondisinya. Tekadnya yang kuat akhinya membuat ia diterima di Sekolah St. Nockers dan dia diminta untuk menjadi wali kelas kelas 9F. Perjuangan Naina dimulai sejak hari pertama ia memasuki kelas 9F yang memiliki karakteristik berbeda dibanding dengan kelas – kelas lain yang ada St. Nockers. Kelas 9F terkenal dengan kenakalannya sehingga setiap bulan membuat wali kelasnya mengundurkan diri.





          Naina berjuang dengan penuh keyakinan untuk menerima segala penolakan dari murid – muridnya maupun guru – guru St. Nockers yang meragukan kemampuannya. “ Tourette Syndrome “ yang ia idap tidak membuatnya patah semangat walaupun ia sering dipandang aneh oleh orang lain yang terkejut dengan gerakan dan suara aneh yang ia timbulkan. Konflik Naina tidak hanya di sekolah tetapi juga penolakan dari ayahnya sendiri yang masih belum menerima keadaan dirinya sampai ia dewasa. Kelas 9F yang dulu dianggap sebagai kelas paling terbawah mulai berubah dengan kehadiran Naina. Berbagai peristiwa yang meluluhkan tekad Naina berulang kali ditampilkan dalam film ini.

          Rani Mukerji berperan dengan baik sebagai seorang pengidap “ Tourette Syndrome “, berbagai emosi yang menyertai setiap peristiwa juga dapat ditampilkan dengan baik. Ada satu scene yang membuat emosi membuncah, yaitu ketika ia dihina oleh muridnya sendiri tentang penyakitnya dan ia berusaha menahan emosinya dengan berusaha menghentikan syndrome’nya dengan menggigit tangannya agar tidak menimbulkan suara aneh. Bagi penderita “ Tourette Syndrom “ biasanya gejalanya akan semakin sering terlihat ketika penderita mengalami rasa gugup atau stres dan hal ini juga ditampilkan beberapa kali ditampilkan dalam film ini.

          Film Hichki ini menurut saya, bisa menguras emosi tanpa terlalu membuat hati retak layaknya film drama yang penuh dengan tangisan. Film ini bisa membangkitkan semangat untuk berusaha meraih impian kita dengan kondisi apapun selagi kita yakin bahwa kita mampu. Banyak nilai – nilai kebaikan dalam film ini, yang bisa kita contoh apalagi untuk seorang yang berprofesi di bidang pendidikan. Cara mengajar Naina yang menyenangkan dan berusaha mengerti kondisi siswa yang berbeda satu sama lain sangat menginspirasi. Kata – kata Naina yang cenderung konspiratif juga memperlihatkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapat kesempatan bagaimanapun kondisinya. Terkadang kita enggan memberikan orang lain kesempatan untuk mencoba sesuatu karena hanya melihat dari sisi luarnya saja. Mungkin istilah yang tepat adalah  “ Dont Judge The Book By The Cover.”


 Ada sepenggal kalimat yang menurut saya menarik, “ Tidak ada murid yang buruk yang ada hanya seorang guru yang buruk “


        Yah... walaupun saya tidak sepenuhnya menganggap kalimat itu benar adanya... karena bagi saya, semua tergantung dari bagaimana seseorang menangkap apa yang diajarkan dan dipahamkan oleh gurunya terhadap mereka tetapi, hal ini bisa menjadi semacam pembelajaran bahwa seorang anak bisa menjadi apa saja, tergantung dari bagaimana lingkungan terdekatnya mendidik dan memberinya contoh. 


       Jadii............. film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton bersama keluarga apalagi adegan lagu – lagu khas film Bollywood tidak mendominasi, mungkin hanya sekitar 4 lagu pendek yang ada sepanjang film. Jangan lupa untuk senantiasa memberikan pendampingan bagi anak – anak yang ikut menonton dan bersedia menjadi guru yang baik bagi mereka lewat film ini.


 
Rate : 8/ 10

4 komentar:

  1. Sebagai penggemar drama bollywood, sepertinya film Hichky ini wajib buat masuk di list yang harus ditonton ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mbak Ardilah ...
      film ini memang recomend untuk ditonton karena akhir - akhir ini bolywood mulai jarang menampilkan kembali film2 dengan tema pendidikan.. awal tahun ini malahan lebih banyak ke genre thriller, mystery dan horor..
      jadi film ini bisa jadi oase di tengah padang film horor :D

      Delete
  2. wah iya aku lupa ada film ini tahun ini. wajib nonton nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai kak antung apriana..
      saya saja juga baru tahu film ini baru kemarin dan ketika liat trailernya langsung memutuskan harus wajib nonton film ini... malahan menuurut saya lebih bagus versi bollywoodnya diandingkan amerika.. :D

      Delete

 
biz.